Ambon, 11 Maret 2012
Langit nampak murung, awan hitam masih menggantung. Sinar mentari enggan menampakkan diri.
Memasuki minggu kedua bulan berjalan, rasa rinduku untuk menapaki setapak ditengah hutan makin menjadi-jadi.
Hari ini aku akan menuju sebuah lokasi wisata yang letaknya lebih tinggi dari tempat tinggalku. Menurutku disitu tersedia medan hiking yang cukup lumayan meski untuk beberapa jam saja.
Aku mulai mengemasi barang-barangku. Sepatu trekking Karrimor, daypack Eiger jenis stream, serta pakaian lapangan. Tak lupa cemilan dan beberapa botol air mineral.
Berbekal uang 20 ribu rupiah, aku mulai menumpang angkot menuju lokasi perjalananku. Nampak ramai di pintu masuk tempat yang akan menjadi awal perjalanan hari ini. Dari atas jembatan terlihat ibu-ibu yang lagi bersemangat mencuci. Disepanjang jalur menuju tempat yang biasanya disebut dengan air ketujuh, berjejer muda-mudi yang lagi duduk. Entah pacaran atau hanya sekedar melepas penat.
Keringat mulai mengucur saat menapaki perbukitan. Alhamdulillah, inilah suasana yang aku rindukan. Lembab pepohonan dan ranting-ranting yang menghalangi. Aku berjalan dengan sangat lambat supaya lebih menikmati. Toh targetnya tak terlalu jauh. 15 menit berjalan akhirnya aku tiba di sebuah lokasi yang biasa disebut dengan air ketujuh. Aku beristirahat sambil membasuh muka di sungai berair jernih, segar rasanya.
Hampir pukul 12 siang, aku memilih mengisi perut dengan cemilan yang aku bawa. Cuaca masih seperti tadi pagi. Aku berharap semoga tidak turun hujan, sebab kalau seluruh pakaianku basah, maka aku akan sulit naik angkot untuk pulang.
Pukul setengah 1 aku melanjutkan petualangan sehariku. Jalan setapak yang mulai tertutup oleh semak belukar aku lewati. Disini tak ada hiruk pikuk seperti awal perjalananku tadi. Medan yang tak terlalu menanjak sangat aku nikmati. Sesekali angin berhembus menambah semangat. Didepan dan samping berjejer perbukitan hijau yang nampak tersenyum melihat kedatanganku.
Dengan tidak terburu-buru aku menikmati setiap langkah. Aku tak ingin perjalanan ini cepat berlalu. Jalur mulai mendatar, rumput ilalang makin meninggi. Maklum daerah ini jarang sekali dilalui orang. Jalur yang rencananya akan aku lalui telah tertutup semak belukar. Dengan terpaksa aku harus tetap melewatinya meski dengan usaha ekstra. Akupun tak ingin melewati jalur lain meskipun jelas. Sebab persediaan makanan yang aku bawa hanya untuk mengganjal perut saja.
Akhirnya dengan usaha yang lumayan menguras tenaga, akupun dapat melewatinya meski dengan goresan pada lengan yang bikin perih. Jalur mulai menurun, lebih sulit daripada menanjak, sebab aku harus berhati-hati. Dan braaakkkkkk, aku terpeleset jatuh terpelanting terguling-guling. Apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi. Dengan luka memar pada sikut aku mencoba untuk tertawa, menikmati apa yang aku rasakan.
Aku menuju sungai yang letaknya beberapa meter saja dari tempatku jatuh untuk membersihkan lukaku. Hari hampir sore, akupun segera bergegas pulang dengan menyusuri sungai. Kenangan beberapa tahun lalu saat melewati sungai ini membuatku selalu bersemangat. 1 jam berjalan akupun tiba di percabangan antara aliran sungai yang aku lewati dan aliran sungai dari air ketujuh. Akupun kembali menuju air ketujuh dan beristirahat sejenak menghabiskan waktu sebelum kembali melanjutkan untuk pulang ke rumah.