bersepeda

bersepeda

bersepeda… salah satu rutinitas saya setiap akhir pekan selain berlari dan main ke hutan. dengan melakukan aktivitas tersebut, hal-hal negatif yang kerap menghampiri seakan menjauh. apalagi setiap akhir pekan (sabtu+minggu) yang adalah harga mati untuk bersepeda. keluar rumah subuh pulangnya maghrib. bahkan waktu untuk pacaran pun tidak ada *karna emang saya ga punya pacar* *nangis di jamban* * dan tiba-tiba jambannya roboh*.

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

tiap senja

tiap senja

di sini tempat di mana saya selalu menghabiskan tiap senja bersama sepeda kesayangan. di tepi pantai dengan debur ombak yang kadang percikannya basahi jalan.

“karena pada tiap senja selalu ada cerita tentang kebaikan”

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

PDW 2012 Part II

Selesai mandi pagi di danau Situ Lembang, selanjutnya kami para siswa disuruh berjalan jongkok tanpa menggunakan ransel & selanjutnya bergerak menuju barak-barak tentara yang terletak disamping lapangan upacara. Dalam hati saya bersorak kegirangan, akhirnya waktu untuk beristirahat panjang pun tiba. Tetapi ternyata tidak, di barak kami hanya disuruh untuk merapikan pakaian dan segera menuju kelas. Saya seakan tak percaya, tetapi apa boleh buat, mau tidak mau harus mau.

Seingat saya materi kelas pertama pada saat basic adalah tentang sejarah berdiri Wanadri yang dibawakan oleh Abah Iwan Abdrurrahman.

Pada materi kelas lainnya, kami para siswa diberikan dasar-dasar pengetahuan hidup di alam terbuka dan kasadaran lingkungan dengan cara & metode yang diberikan oleh pemateri. Ada yang bentuknya seperti kuliah, studi kasus ataupun dengan alat peraga.

Pada tahap inilah pembentukan sikap dan mental para siswa di bentuk oleh para staff pelatih dari tim kesiswaan dan tim tata tertib. Berbagai bentuk aturan dan pengawasan diberlakukan yang mana tujuannya untuk merangsang siswa agar tetap sigap dan teliti.

Pada tahapan ini banyak siswa yang bertumbangan akibat tidak tahan dengan ketatnya aturan yang diberlakukan serta rutinitas 13 hari tanpa jeda yang menuntut kesiapan fisik dan mental. Tidur pukul 11 malam, bangun pukul 4 pagi, mandi pagi di dam yang dinginnya bukan main, jalan jongkok pake ransel, olahraga pagi, materi kelas yang bikin ngantuk, mandi sore yang bikin malas, serta hukuman dari para pelatih menuntut kita agar tetap TABAH SAMPAI AKHIR & JANGAN PERNAH MENGELUH

Di Situ Lembang, hasrat untuk mengundurkan diri dari arena Pendidikan Dasar Wanadri kerap muncul. Namun saya selalu meluruskan kembali niat awal saya. Dimana untuk sampai disini tidak dengan tutup mata membuka mata. Proses menabung dengan menyisihkan sebagian uang jajan dan biaya pacaran serta perjuangan meminta izin kepada 4 orang tua (orang tua kandung dan angkat) selalu menguatkan saya #curhat #nangisdijamban πŸ˜€ ditambah mengingat mahalnya biaya dari Ambon menuju Bandung dengan moda transportasi udara serta mahalnya biaya hidup selama menanti pengumuman hasil seleksi dan biaya membeli perlengkapan membuat saya galau berpikir seribu kali seribu untuk pulang. Namun hal utama yang membuat saya tetap bertahan adalah “Karena Saya Ingin Belajar”

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

PDW 2012 Part I

Pendidikan Dasar Wanadri 2012 memang telah berlalu, namun setiap moment yang terjadi selama sebulan lamanya itu akan membekas dan menjadi catatan dalam hidup.

Di pagi buta tanggal 16 juli 2012, saya, Falah, Odang, Dido Bios, Sapril, Agus & Ucup bergegas meninggalkan sekretariat KSR unit Unpas menuju taman pramuka dimana yang menjadi tempat berkumpulnya siswa Pendidikan Dasar Wanadri 2012.

Mungkin karena hari masih terlalu pagi, angkot yang biasanya beroperasi belum juga nampak, alhasil kita harus berjalan kaki sambil berharap mendapat tumpangan. Akhirnya Falah berhasil membujuk sopir angkot yang masih berisitrahat di sekitar BIP untuk mengantar kami ke taman pramuka.

Setibanya di taman pramuka kami disuruh jungkir balik oleh Fahmi Arasulli sebagai konsekuensi atas keterlambatan kami. Dan ternyata banyak juga yang datangnya lebih telat dari kami.

Pagi itu para siswa Pendidikan Dasar Wanadri 2012 akan melakukan longmarch pertama dengan mengambil titik start dari tempat kami di suruh jungkir balik hingga kawah upas, gunung tangkuban perahu. Kami para siswa diberi batas waktu hingga pukul 5 sore untuk tiba ditempat yang telah ditentukan, apabila melewati batas waktu yang telah ditentukan, maka dianggap gugur.

Di gelap buta itu saya & 4 orang siswa yang tergabung dalam satu regu berjalan stabil saat melewati jalan raya dengan medan yang datar. Beberapa regu yang tadinya berada dibelakang regu kami nampak mendahului. Tapi karena dari titik start menuju pos 1 disuruh untuk tetap berjalan dalam formasi beregu, maka saya harus menahan diri untuk mengejar. Maklum dalam regu saya ada siswa yang sudah masuk dalam kategori bapak-bapak. Jadi tempo pergerakan agak melambat dibanding regu yang lain.

Setibanya di Pos I, bekal air minum harus diisii. Disinilah kami harus berjalan solo. Langkah kupercepat ketika trek mendatar, namun harus kuperlambat saat akan melewati Dago Green Hills, sebuah tanjakan dengan yang tak kuketahui berapa derajat kemiringannya. Lidah seakan mau keluar dari mulut saat sinar matahari mulai menyengat. 3 langkah 10 detik istirahat harus aku terapkan. Didepan aku hanya ada sekitar 4 siswa yang sama ngos ngosan. Sedangkan dibelakang seperti kumpulan semut hitam yang sedang berjalan perlahan menikmati pemandangan wajah-wajah pelatih yang mirip batu.

Sejam lebih berjalan meninggalakan pos I tibalah saya di daerah Lembang. Kalo tidak salah ingat hari itu adalah hari minggu. Sebab disepanjang jalan banyak kutemui orang yang lagi jogging atau pamer bokong bagi gadis-gadis. Disepanjang jalan Lembang banyak sekali jajanan yang menggiurkan dan membuat perut konak. Namun apa daya, aturan tata tertib yang selalu membayangiku serta tidak adanya duit membuat aku hanya bisa menghayal.

Di lembang aku kembali harus melapor sekaligus mengisi persediaan air minum sebelum melanjutkan perjalanan menuju kawah upas. Di depan saya nampak siswa putri yang berjumlah 12 orang sedang meniti langkah pada jalan menanjak didampingi oleh beberapa senior yang kami panggil saat itu dengan sebutan, pelatih.

Aku mengekor dibelakang barisan putri, namun teriakan keras dari Miliatri Setia Ningrum yang menyuruhku agar melewati barisan putri terpaksa membuatku memacu langkah dengan cepat. Tak peduli debu yang membumbung akibat gesekan derap sepatu saya yang mengikis tanah.

Panas yang menyengat semenjak pagi berganti dengan rasa sejuk setelah melewati hutan pinus, tapi tetap saja ngos-ngosan. Disini beberapa kali saya sempat beristirahat untuk menikmati angin sepoi-sepoi. Namun teriakan dari pelatih yang mirip auman singa memaksaku harus kembali melanjutkan perjalanan. Rupanya para pelatih ada dimana-mana.

Tak lama berjalan tibalah saya ditempat peristirahatan pertama. Ada sekitar 2 orang siswa yang sedang sibuk merawat kaki dengan minyak komando (minyak kelapa yang dicampur dengan bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe keriting, tomat + terasi) dan itu berarti saya siswa ketiga yang tiba disitu #pret #gapenting :D. Juga ada beberapa orang pelatih yang sudah ubanan atau biasa disebut dengan ‘Pemburu Hantu’ ‘Pemburu Tua’ :D.

Setelah beristirahat kurang lebih 30 menit kami pun harus kembali berjalan menyusuri sisi kanan jalan menuju arah area wisata Tangkuban Perahu. Di jalanan nampak setiap mata memandang ke arah saya (akibat terlalu ganteng), baik itu pengunjung maupun para pelatih yang lalu lalang dengan kendaraan bermotor (iyalah masa mau jalan kaki) :D.

Puas melahap tanjakan dan melapor di pos selanjutnya, tibalah waktu yang ditunggu-tunggu, jengjerejengjerejeng…. yap waktu MAKAN SIANG :D. kita diberi waktu sejam untuk makan, sholat zuhur, merawat kaki, update status dan mck. Disini saya mempergunakan waktu dengan berolahraga mulut alias ngemil dengan snack punya teman, bukan snake. sungguh waktu yang sangat ber-kuali-tas :p.

Sore hari kami dikumpulkan di kawah upas gunung tangkuban dengan berbaris per regu yang terdiri dari 5 sampai 6 orang. Kabut tebal disertai bau belerang yang menyengat membuat suasana menjadi hening alias tegang. Hanya terdengar suara lantang dari seorang pelatih yang kalo saya tidak salah ingat gini: “Tuan Tuan apa ada diantara anda yang mau pulang/mengundurkan diri?” “Wanadriiiiii tidak” jawab kami serentak.

Selanjutnya kami digiring menuju tower/pemancar pada puncak gunung tangkuban perahu. Teriakan khas “Hello Genk” dari para pelatih disepanjang jalan yang disambut dengan teriakan Wanadri dari para siswa menggelegar cetar membahana.

Kami pun tiba di tower sekitar pukul 8 malam. Para siswa berbaris per regu sebelum diinstruksikan untuk makan malam. Didepan kami nampak 5 orang siswa akan pulang meninggalkan kami. Tentu kita para siswa maupun para pelatih tak bisa menahan mereka untuk tetap bersama. Mereka menangis sebagai tanda perpisahan ;(.

Malam makin larut namun kita belum juga beranjak dari tower. Udara dingin yang perlahan menusuk tak bisa mengalahkan rasa kantuk. Wanti-wanti dari pelatih agar tidak tidur membuat sakit kepala. Saya pun mulai mencari kesempatan dalam kegelapan (iya saat itu emang gelap) dengan tidur sambil berbicara. Jurus ini terbukti ampuh mengelabui para pelatih, hoaaammm.

Tiba-tiba saja kami dikagetkan dengan suara dari pelatih dengan teriakan “persiapan Tuan-Tuan”. Malam ini rupanya kami akan menuju area latihan gunung hutan milik Kopassus yang bernama Situ Lembang.

Barisan tertata rapi dengan jarak hanya beberapa centimeter antar siswa. Lampu senter dari para siswa menjadi sumber cahaya pada malam itu. Jalan menuju Situ Lembang hanya berupa turunan tetapi sangat sangat sangat membosankan. Saya sempat berfikir jangan-jangan pelatih yang membawa kita salah jalan sebab dari tadi belum juga nyampe di Situ Lembang.

Dan tibalah kami di Situ Lembang pada dini hari. Seperti biasa kami disuruh berbaris per regu untuk mendengar aba-aba. Selanjutnya kami digiring menuju Danau Situ Lembang dengan cara berlari melewati jalan yang penuh becek juga gelap. Senter saya yang tadinya terang kini mulai redup, bahkan kunang-kunang pun lebih terang. Siswa didepan saya menjadi patokan saat berlari pagi itu. Suara para pelatih kembali menghentak. “cepat Tuan” “rapat Tuan” terdengar berulang-ulang. Teriakan Wanadre Wanadre Wanadre Wanadre saat berlari membuat beberapa pelatih berang. Sampai-sampai ada seorang pelatih yang teridentifikasi bernama Mas Totok berteriak di telinga saya gini: Wanadri Tuan… Wanadri… pake I bukan pake E :D.

Selanjutnya kami para siswa disuruh masuk ke dalam danau. Disini saya sempat salut sama seorang pelatih yang bernama Engkus Kuswara yang turut mandi bersama kami. Kata-kata dari beliau mampu membakar semangat kami meski sedang berada dalam air :p.

Bersambung…

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

untukmu terkasih

untukmu terkasih
ada yang terbayang saat angan melayang
ada yang terbaring saat asa mengering

untukmu terkasih
takdir harus terus dihadapi
hidup harus terus dinafkahi

untukmu terkasih
jalan masih panjang
usahlah menoleh ke belakang

untukmu terkasih
pandanglah kedepan
bawalah semua harapan

untukmu terkasih
tinggalkanlah aku
pupuskan masa lalu

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Menanti

senyummu adalah katakata
tanpa suara kau berbicara
hanya dengan tatapan mata
hanya dengan ungkapan rasa

hari ini kau datang padaku
dengan rindu yang menggebu
dengan wajah yang sendu

tahukah kamu
aku telah lama menunggu
seperti ibu yang menantikan hadirnya buah hati
disini, dibawah pohon randu

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Nama Angkatan Di Wanadri

Angkatan Putra – Angkatan Putri

01. Pendiri 1964
02. Pelopor 1964
03. Singawalang – Srikandi 1964
04. Lawang Angin – Kayu Putih 1965
05. Angin Rimba – Anggrek Liar 1967
06. Hujan Kabut – Pendobrak 1969
07. Tapak Rimba – Saliara 1971
08. Angin Lembah – Puspa Rimba 1973
09. Kabut Singgalang – Bunga Manik 1976
10. Rawa Laut – Acintia Panka 1978
11. Kabut Rimba – Kaliandra 1981
12. Elang Rimba – Medinilla 1983
13. Badai Rimba – Altingia 1986
14. Topan Rawa – Brugmancia 1989
15. Bayu Rawa – Green Pinka 1990
16. Tapak Lembah – Kayu Api 1993
17. Elang Rawa – Pualam 1996
18. Kabut Lembah – Kartika 1999
19. Api Rawa – Puspa Kaldera 2001
20. Hujan Rimba – Mutiara 2004
21. Bayu Windu – Srikandi Silva 2008
22. Tapak Rawa – Asoka Rimba 2010
23. Elang Kabut – Cantigi 2012

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Lagu PDW 2012

Pada saat Pendidikan Dasar Wanadri 2012 kemarin, ada sebuah lagu yang selalu membuat saya bersemangat menjalani detik demi detik dalam medan latihan yang menurut sebagian orang cukup berat. Sebuah lagu yang judulnya tidak saya ketahui sampai sekarang.

Wanadri… Wanadri…
Menembus rawa laut hutan rimba
Wanadri… Wanadri…
Membelah jalan raya rel kereta
Wanadri… Wanadri…
Diterjang angin rimba
Di sungai di laut di gunung di angkasa
Wanadri tetap riang gembira

Kalau pagi kelaparan
Kalau siang kehausan
Kalau malam kedinginan
Belajar ketabahan

Diterpa badai rimba
Diterpa topan rawa
Wanadri tetap menggelora

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

WANADRI MUDA

Berlari kencang di tengah dentuman
Menyambut hari kemenangan
Gemuruh angin menyampaikan salam
Slamat datang Wanadri Muda

Detik hari kita masihlah panjang
Menantang dan melelahkan
Namun tak perlu merasa sendiri
Saudaraku Wanadri Muda

Menempa diri di alam bebas
Membentuk kita sejiwa serasa
Mengembara jauh dari rumah kita
Membaktikan diri demi tanah air

Janji Wanadri yang diucapkan
Mengikat jiwa kita
Maknanya akan menuntun semua
Jadilah insan berguna

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

HAKEKAT WANADRI

Wanadri itu itu mengembara dan menempuh daerah-daerah demi kepentingan tanah air dan ilmu pengetahuan
Wanadri itu sanggup menolong sesama hidup setiap waktu
Wanadri itu sahabat sesama manusia dan saudara bagi tiap-tiap Wanadri lainnya
Wanadri itu sabar dan riang gembira dalam menghadapi segala persoalan
Wanadri itu taat dan hormat pada adat istiadat dan peraturan daerah yang dilalui
Wanadri itu ramah dan bersikap bersahabat kepada penduduk setempat yang dilalui
Wanadri itu wajib menjaga keutuhan alam dan seluruh isinya

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar